Mencoba Sarang Semut

Berawal ketika bapak mertuaku pada bulan november yang lalu secara mendadak terkena serangan stroke ringan yang menyebabkan anggota badannya sebelah kiri terasa lemas dan sukar digerakkan (kaki dan tangan), pada saat itulah saya mulai mengenal yang namanya sarang semut.

Tadinya saya pikir sarang semut itu hanyalah sebuah tempat yang digunakan oleh semut untuk bersarang seperti yang tampak pada beberapa ranting pohon seperti pohon jambu air atau pohon mangga. Ternyata belakangan aku baru tahu kalau sarang semut itu ternyata adalah bagian dari tanaman epifit bernama ilmiah Myrmecodia sp. Bentuknya mirip umbi, di bawah batang tanaman ada yang menggelembung. Nah, di dalamnya itulah beberapa jenis semut menghuni. Jadi, bukan sembarang sarang semut seperti yang saya kira sebelumnya.

Sarmut bulat

Sarang semut yang baru "dipetik" (courtesy Mas Agung)

Rasanya mirip air teh, sedikit kesat dan berbau tanah.

Sarang semut itu dipesan dari teman suamiku yang kebetulan sering bolak-balik ke daerah papua untuk urusan pekerjaannya. Jadi insya allah sarang semut yang dikonsumsi kami adalah sarang semut asli yang berkhasiat, karena kami sudah merasakan sendiri manfaatnya. Karena menurut informasi ternyata tidak semua sarang semut memiliki khasiat seperti yang diharapkan, bahkan saat ini banyak pula beredar sarang semut yang palsu.

Secara empiris sarang semut terbukti berkhasiat menyembuhkan penyakit-penyakit seperti kanker, tumor, jantung, stroke, lemah syahwat, wasir dan penyakit lainnya. Secara ilmiah pun sudah dilakukan penelitian oleh Pusat Bioteknologi LIPI yang mengungkapkan bahwa sarang semut mengandung senyawa aktif yang telah dikenal dalam dunia medis dapat menaklukan berbagai penyakit berat.

Yang menjadi permasalahan, asli kah dan berkwalitas kah sarang semut yang akan kita konsumsi? Jadi harap berhati-hati, alih-alih ingin sehat yang ada malah jadi tambah penyakit…😦

Satu Balasan ke Mencoba Sarang Semut

  1. ceriadini mengatakan:

    Saya juga punya pengalaman menarik tentang sarang semut. Orang tua saya berdomisili di Sorong, Papua. Suatu saat saya membawa sarang semut ke Jakarta, rencananya dikonsumsi untuk kesehatan. Nyatanya setelah berbulan-bulan, sarang semut itu tidak pernah saya sentuh. Jangankan diseduh lalu diminum, ditengok saja tidak pernah.

    Suatu hari saya terkena flu dan batuk. Flunya telah berhenti, tapi tidak dengan batuk. Padahal sebentar lagi bulan puasa. Saya tidak mau di bulan puasa saya tersiksa dengan batuk yang saya alami. Saya mengeluh pada saudara saya. Saudara sepupu saya bilang, kenapa tidak pesan sarang semut dari Sorong? Wah, saya kan punya koleksi sarang semut. Saat sahur hari pertama, saya seduh sarang semut itu, lantas meminumnya tiga gelas sekaligus. Tidak lama batuk saya makin keras. Dahak keluar tak mau berhenti. Saya lalu tidur karena badan lemas. Capek dengan derita batuk. Waktu bangun, tenggorokan saya sangat lega. Batuk berangsung pulih.

    Saya mengambil kesimpulan bahwa sarang semut punya efek pengobatan yang sangat cepat. Terpikir bagi saya untuk memasarkan sarang semut karena terbukti memang ampuh mengobati berbagai penyakit.

    Saya pun menjual sarang semut via website.
    http://*******.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: